Saturday, May 20, 2006

Pindahan ke Wordpress

Ternyata saya temukan BLOG di Wordpress.com lebih menarik secara fungsional. Maka BLOG Bintang Tauladan pun scr resmi dipindahkan ke bintangtauladan.wordpress.com. Dan bisa juga diakses melalui www.bintangtauladan.com

Friday, May 19, 2006

Egois - Asertif - Martir

Kita perlu tau beda antar ketiganya, biar bisa dg tegas membaca posisi kita dan orang lain utk kemudian menindaklanjutinya dg bijak. Tentunya kita udah tau sama2 apa itu egois; perilaku pemenuhan kebutuhan & hak diri yg melanggar hak orang lain. Ada yg terdzolimi di sini. Sementara itu, Asertif adl sikap egois -ngurusi urusan diri- yg TIDAK merugikan atau melanggar hak atau personal boundary orang lain. Jika saya pengen dengerin theme The Last Samurai keras2 pd jam kerja misal, itu boleh kan, itu hak saya. Tapi pake headphone dong, biar ndak ngganggu hak orang lain. Kecuali orang lain ndak keberatan. Letak asertivitas adl pd nyali & keberanian kita memenuhi hak & kebutuhan Pribadi kita. Tapi syarat utamanya, NDAK BOLEH ada yg terdzolimi. Nah, klo martir, itu adalah sikap pasif dan sungkan yg keterlaluan. Kaki keinjek ndak mau protes krn sungkan, malu atau malah takut. Kebelet pipis waktu maen di rumah temen, tp ndak mau pinjem kamar kecil krn malu. Kacian deh. So… Jangan keliru menamai kondisi ya...dan jangan keliru memilih sikap ^_^

Thursday, May 18, 2006

Find the Essence

You know what, a genius has a special way of seeing things - all at once, all together, and all the way to the core. He/she is able to create the essence from split and isolated parts of the whole. And he/she is able to understand the essence without having all the information. But how? By eliminating the unnecessary and selecting the necessary features, aspects, and characteristics. It's easy for me to say :p

Blaming... nyalahin orang lain

Di sekolah konvensional, kita diberi tugas dan dilatih untuk menurutinya, serta terkondisikan untuk menuruti aturan dari penugasan itu. Ktk gagal pecahkan masalah, maka reaksi umumnya adalah posisi blame-it-on-the-teacher. "Lha nggak diajari e". Dan kebanyakan orang ambil sikap "Yang salah tu orang lain - bukan aku. Ujianku jelek; salah guruku ndak ngajari dengan bener. Ada masalah di keluargaku; salah bapak, ibu, dan saudara2ku ndak ngajak aku ngobrol. Klo interview yang aku ikuti jelek ndak keruan, itu salah interviewernya yang nanya2 pertanyaan2 tolol" Klo kita ambil sikap semacam itu, maka tentunya kita menempatkan orang lain dlm posisi in-control atas kehidupan kita. Kita layaknya boneka, dan yang mengendalikan mereka. Wis, soro. Kok kayak2nya orang lain bisa berbuat apapun yang mereka mau terhadap diri kita. Kita salahkan orang lain alih2 ambil tanggung jawab dan ambil tindakan.

Melatih Otot Pikiran jangan dg krupuk

Ada yang pergi ke gym ndak? Entah di plaza marina, atlas, celeb, atau -yang paling murah- Mayura. Di sana kan kita ngelatih otot. Pasti deh yang diangkat tu barbel alih2 krupuk. Tapi kenapa kok yang diangkat beban, coba? Pasti krn kita kepengen tangan kita alami some tension utk menantang otot2 kita kan. Tekanan emg mbikin otot kita tumbuh berkembang. Dia nggak akan tumbuh klo yang diangkat krupuk atau kapuk. Otak kita, otot pikiran kita, itu juga sama, harus dilatih. Masa kita lebih pengen otot pikiran kita males, lemot dan gembrot. Masa otot pikiran kita disuruh mikir masalah seringan krupuk. Dan inget waktu kita masih sekolah. Kecenderungannya kan kita (saya) berusaha utk lakukan tugas ato PR sesedikit mungkin, secepat mungkin, sehingga kita (saya) bisa bersenang2 lakukan aktivitas lain. Iya kan? Saya nuduh nih. Padahal otot pikiran tu sama spt otot tubuh kita, perlu dilatih dengan tantangan gede. Klo nggak, jadinya lelet, tumpul dan gendut. Nulis gini, krn habis dari gym nih, biar ndak dibilang Mr.Chubby lg ama temen2 :(. Tapi ya gitu, I'd have to admit, kadang ke gym cmn buat relaksasi mandi air panas doang :p.

Tuesday, May 16, 2006

Kemarahan yg Tepat

Klo marah, siapapun juga bisa. Yang susah tu adl marah kepada orang yg tepat, dg alasan yg tepat, di saat yg tepat, dan dg cara yg tepat. Sepertinya Aristoteles yg bilang spt itu. Apapun, kita marah tu klo ada value, nilai atau aturan pribadi yg dilanggar oleh orang lain atau diri sendiri. Posting ini ditulis waktu saya lagi marah nih.

Monday, May 15, 2006

Fokus ... Fokus ...

Saya merasakan betul betapa tidak fokusnya diri ini ketika menjabat sebagai Sekjen BEM ITS dan Direktur Eksekutif Unit Kegiatan Mahasiwa Entrepreneur ITS secara bersamaan. Berantakan & memalukan sekali performa kerja saya waktu itu. Padahal kan, Kemampuan kita untuk berfokus secara jelas pada prioritas tertinggi kita -dari semisal amanah, tanggung jawab atau impian- dan untuk berkonsentrasi secara tunggal padanya hingga rampung, akan menentukan kuantitas & kualitas pencapaian kita. Saya bersyukur Tuhan memberi saya spiritualitas yang (semoga) terberkahi, pendidikan yang cukup, akal yang luar biasa, serta segala sumber daya yang melingkupi diri saya. Tapi saya khawatir saya akan dikalahkan oleh orang-orang yang kurang beruntung ketimbang diri saya, yang mana dia mendisiplinkan dirinya untuk terus berfokus dan berkonsentrasi pada prioritas tertingginya setiap hari dalam kehidupannya. Kemampuan untuk memasang prioritas yang jelas ini sangatlah penting. Upaya sia-sia dan prestasi di bawah rata-rata sesungguhnya muncul dari salah menempatkan atau mengarahkan prioritas. Sementara sukses datang dari kemampuan untuk memilih prioritas secara cerdas dan kemudian tetap konsisten padanya hingga tercapainya kriteria sasaran yang kita targetkan. Hangatnya sinar matahari akan berubah menjadi sedemikian membara ketika dikumpulkan melalui lensa ke satu titik fokus. Sinar laser bekerja dengan cara serupa.

Menjadi diri sendiri belumlah cukup

Kapan hari tu saya sempet menegur salah seorang sobat dari tempat kerja. Saya bilang, "Ngerti ga, you are not being yourself". Saya bilang gitu karena si sobat saya tu keliatan lagi gupuh banget ama kerjaannya, yang diberikan scr mendadak & beyond her wildest expectation. Dan rasa gupuhnya tu mbikin dia bego and not being herself. Rasa gupuh emang seperti itu kan, mbikin kompetensi jadi tumpul. Nasehat yang sewajarnya datang bisa jadi adalah, "C'mon, be yourself! Dan keluarin semua apa yang kamu punya. Seperti biasanya lah". Kita sudah biasa mendengar seperti itu. Tapi tampaknya perkataan itu tidaklah cukup untuk menjadikan seseorang unggul. Karena kita haruslah Melebihi Diri Sendiri. Jadi mestinya saya harus bilang gimana coba? ^_^

Thursday, May 11, 2006

Makin mbulet, makin mateng deh

Saya dulu tu pernah kejebak dalam situasi di mana saya harus mengambil keputusan krusial dengan segera. Ini terjadi di akhir masa jabatan saya sebagai ketua hima T.Informatika ITS. Waktu itu saya bener2 lakukan serentetan sikap konyol yang akhirnya berbuntut pada kepelikan lebih besar. Ruwet wis poko'e. Saya sendiri akhirnya butuh beberapa bulan untuk bisa pulih dari kegetiran pengalaman itu. Fiuh…. Namun saya bersikeras meyakini bahwa dalam setiap kepelikan atau kemunduran pasti terdapat bibit pembelajaran atau keuntungan yang sepadan atau bahkan lebih besar dari tingkat kepelikan itu sendiri. Gara2 mbaca buku nih :p. Tapi ya jujur aja, ndak gampang mempertahankan keyakinan semacam itu. Tapi emang benar deh, makin besar, rumit dan mbulet masalahnya, saya justru bisa belajar lebih banyak -pada akhirnya, cepat atau lambat :p. Beberapa minggu setelah kejadian yang saya ceritakan di atas terjadi, saya jadi ngerti bagaimana membangun nyali yang solid, bagaimana membuat orang lain mandeg berpikir ketika bernegosiasi, bagaimana membelokkan issue, bagaimana menyetting forum, bagaimana membangun konflik terkendali, dan masih banyak lagi yang lain. Banyak poko'e. Tentu saja, apakah kita menganggap pengalaman memalukan kita sebagai pembelajaran atau pengalaman sampah, itu akan menjadi sama-sama benarnya. Terserah kita memutuskan untuk memilih yang mana.